Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

PKS Tunjukkan Soliditas di Senayan

 INILAH.COM, Jakarta - Berbagai isu dan peristiwa yang memojokkan PKS belakangan ini nampaknya tidak mempengaruhi soliditas kader-kader partai tersebut.

Setidaknya hal itu ditunjukkan ribuan kader PKS dalam acara Milad ke-13 PKS yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (17/4/2011). Mereka larut dalam satu rasa sebagai kader dakwah. Mereka seolah ingin melupakan kasus-kasus yang sebelumnya memojokkan PKS, seperti kasus politisinya Arifinto yang melihat gambar porno.

Mereka melupakan berbagai tudingan para pendiri PKS, seperti Yusuf Supendi, Syamsul Balda, dan lain-lain yang beberapa kali menyerang elite PKS.

Untuk memompa semangat dan soliditas, terpampang berbagai spanduk di pojok-pojok acara Milad PKS ke-13. Di antaranya, spanduk berbunyi: "PKS Tetap solid", "Jakarta Pusat makin Kuat Makin Taat", dan "Bekerja untuk Indonesia." [bar]


http://www.inilah.com/read/detail/1426692/pks-tunjukkan-soliditas-di-senayan
Read More...

Luthfi: Makin Tinggi PKS 'Angin' Makin Kencang

INILAH.COM, Jakarta - Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq melihat partainya mulai diterpa 'angin ribut'. Ia mengimbau kadernya agar selalu mengucapkan ayat Al-Qur'an saat menghadapi berbagai ujian.

"Tantangan yang kita hadapi di saat partai kita mulai meninggi, ada sejumlah angin yang mulai menerpa PKS. Ada angin yang menyejukkan, ada angin yang menggoyang, angin yang memporakporandakan tatanan yang kita miliki," tandas Luthfi saat menyampaikan pidato politik di acara Milad ke-13 PKS di Jakarta, Minggu (17/4/2011).

"Saya mengajak kader PKS untuk meneriakkan dan kumandangkan setiap ada guncangan dari pengganggu dengan teriakan, Hasbunallah wanimal wakil ni'mal maula wa ni'man nashir," lanjut Luthfi.

Menurut Luthfi, betapapun dahsyat guncangan angin yang menerpa partainya, hal itu justru akan jadi pelecut bagi kadernya agar makin matang dalam berpolitik.

"Dengan prestasi yang dimiliki PKS, turbulensi yang kita hadapi hanya akan mematangkan kader-kadernya, mengokohkan soliditas kader-kader dan mencemerlangkan tokoh-tokohnya. Itu semua hanya ujian yang kita hadapi," tandasnya. [bar]


http://www.inilah.com/read/detail/1426872/luthfi-makin-tinggi-pks-angin-makin-kencang
Read More...

PKS dan Cobaan Demokrasi

Jakarta - Paling tidak ada 2 kejadian beruntun yang 'mengarah' langsung atau tidak langsung kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS); Pertama, kasus Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan (PK) –awal mula PKS- yang memperkarakan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ke Badan Kehormatan DPR RI. Selain itu, Yusuf –yang telah dipecat sejak tahun 2009 dari PKS karena alasan indisipliner ini- juga membuka beberapa tuduhan mengenai keterlibatan Sekjen PKS Anis Matta dalam penggelapan uang serta sikap Yusuf yang menolak PKS menjadi partai terbuka. Kedua, dan ini yang menghebohkan, adalah kasus Arifinto, anggota DPR RI dari PKS yang tertangkap kamera diduga sedang menonton video porno pada saat berlangsungya sidang paripurna.

Tulisan ini mencoba melakukan analisa –berdasarkan kasus-kasus tersebut- mengenai risiko yang ditempuh sebuah gerakan ketika mereka memutuskan untuk masuk ke dalam lingkaran 'politik praktis'.

Dari pengalaman di Indonesia misalnya, beberapa gerakan Islam gagal menghadapi tantangan politik. Beberapa partai Islam kalah dalam proses politik yang fair dan elegan, tetapi –dan ini yang jarang diulas- partai Islam seringkali kalah, bukan karena tidak mampu mendulang suara, tapi gagal menghindar dari fitnah lawan politik yang berujung pada 'pembredelan' partai tersebut oleh penguasa, baik langsung maupun tidak langsung. Masyumi di era Orde Lama dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di awal era Orde Baru menjadi bukti gagalnya gerakan Islam menghadapi cobaan demokrasi. Bagaimana dengan PKS?

Cobaan Demokrasi

Demokrasi adalah pasar bebas politik. Semua ide dan gagasan ditawarkan di sini, dalam berbagai bentuknya. Pembelinya adalah rakyat. Rakyat yang akan menilai gagasan apa yang layak dibeli, dan gagasan mana yang sebaiknya dibuang. Maka tugas partai adalah mengemas gagasan itu dengan bentuk terbaik, sehingga tampak menarik untuk dijual dan ada kemungkinan untuk 'laku' di pasaran politik.

Dalam tataran ideal, demokrasi yang tak ubahnya seperti pasar ini justru menjadi masalah, karena menjadi absurdnya kebenaran dalam politik. Hal ini paling tidak didasari oleh beberapa hal; pertama, kebenaran, seringkali kemudian menjadi domain partai atau koalisi partai mayoritas. Inilah kebenaran politik, yang belum tentu merupakan kebenaran hukum, dan apalagi kebenaran agama. Demokrasi, dalam istilah lainnya, kemudian menjelma menjadi peraturan tentang kemenangan 51 persen atas 49 persen, sesuatu yang oleh Alexis de Tocqueville disebut sebagai 'tirani mayoritas'.

Kedua, gagasan tentang apa itu 'kebenaran dalam politik' berbeda antara satu partai dengan partai lain. Persamaannya, adalah semua partai meyakini bahwa untuk membuktikan sejauh mana kebenaran gagasan mereka, yang harus dilakukan rakyat adalah memilih mereka untuk berkuasa di lembaga negara. Gagasan kebenaran politik dalam bentuk 'ideologi partai' ini kemudian menjadi semacam karakter yang membedakan antara satu partai, dengan partai lainnya.  

Ketiga, Dengan analogi pasar bebas dan kebenaran yang absurd, maka persaingan menjadi sedemkian bebas. Dalam konteks ini, kita bisa memahami mengapa konotasi term 'politik' menjadi bernilai 'negatif'. Tak lain karena, demokrasi hampir-hampir memberi jalan bagi partai politik untuk merebut kekuasaan dengan segala cara. Toh, benar salahnya cara  yang ditempuh, akan masuk dalam perdebatan politik, bukan justifikasi hukum. Inilah cobaan demokrasi, yang segera kemudian menjadi mekanisme seleksi alamiah; yang mampu beradaptasi akan terus bertahan. Yang gagal, segera masuk kotak.

Reformasi 1998 membawa Indonesia untuk 'belajar kembali' tentang demokrasi, setelah pernah diaplikasikan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 1955. Dalam kondisi inilah, PKS muncul (sebelumnya PK) dengan menawarkan gagasan Islam sebagai landasan ideologi. Diisi dominan oleh orang-orang dengan latar belakang aktivis Islam kampus, idealisme dan ide Islam Politik kemudian menjadi 'dagangan' PKS dalam menjual gagasannya kepada rakyat.

Namun, lazimnya partai lain yang terus eksis, PKS pun tidak lepas dari cobaan demokrasi. Cobaan yang dihadapi adalah bagaimana mengejawantahkan ideologi partai dalam tindakan nyata di ruang publik. Dengan kata lain, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana 'kebenaran politik versi PKS' menjadi 'kebenaran politik' yang diyakini juga oleh masyarakat. Hal ini nampaknya menghadapi beberapa kendala tertentu;

Pertama, adalah upaya PKS untuk memperluas basis pemilih (kader dan simpatisan). Selama ini PKS dianggap masih berada di 'kanan' dengan basis agama yang kuat, dan belum mampu bergeser ke 'tengah' untuk menggaet masa Nasionalis. Pilihan strategi yang diambil pun tidak main-main; menjadi partai terbuka. Pilihan cerdas sekaligus kontroversial; di satu sisi PKS harus mampu mengemas gagasan ideologi mereka sedemikian rupa untuk meraih simpati massa kelompok nasionalis, di sisi lain PKS juga harus menjelaskan pilihan untuk 'terbuka' ini pada kader dan simpatisan mereka yang kebanyakan adalah kelompok Islam loyalis. Pada titik inilah soliditas PKS sebagai partai kader diuji.  

Kedua, adalah cobaan demokrasi bernama kekuasaan. Dalam hitung-hitungan koalisi, praktis PKS adalah partai yang menempati pos menteri terbanyak setelah Partai Demokrat, sebanyak 4 menteri. Tentu saja ini berkah sekaligus cobaan. Dari sisi internal, kader PKS harus mampu untuk 'menahan diri' terhadap godaan kuasa yang biasanya mendatangkan harta. Jabatan politik, seharusnya berdampak strategis bagi konstituen PKS secara keseluruhan, bukan lahan pembagian jabatan dan proyek-proyek besar. Secara internal, godaan-godaan 'dunia' ini harus diantispasi oleh kader-kader PKS.

Ketiga, adalah cobaan demokrasi berwujud koalisi. Sebagai partai pendukung pemerintahan, PKS dihadapkan pada dilema dalam menentukan sikap. Di satu sisi, PKS mempunyai idealisme tersendiri berdasarkan platform ideologi yang menjadi dasar gerakan, namun di sisi lain PKS –sebagai mitra koalisi- dihadapkan pada tuntutan untuk mendukung kebijakan pemerintah. Dua hal ini seringkali tidak seiring sejalan. Namun, patut diapresiasi ketika dalam beberapa kasus, PKS konsisten dalam  mempertahankan sikapnya 'berbeda jalan' dengan pemerintah.

Badai Pasti Berlalu?

Dalam bukunya Dari Gerakan ke Negara, Sekjen PKS Anis Matta sudah memberikan 'early warning' terhadap pilihan gerakan tarbiyah –cikal bakal PKS- untuk masuk dan terlibat dalam demokrasi. Dalam buku tersebut, Anis mewanti-wanti kader PKS untuk siap menghadapi era demokrasi dan keterbukaan, di mana 'kebenaran dan kebathilan sama-sama bersaing untuk meraih simpati masyarakat'. Maka di era persaingan politik ini menurut Anis, yang harus dilakukan kader PKS adalah 'membuktikan bahwa yang benar di mata Islam adalah benar juga di depan hukum, dan apa yang salah menurut Islam adalah juga salah menurut hukum yang berlaku'.

Seperti jamaknya ajaran agama, bahwa siapa mampu menghadapi cobaan, maka sesungguhnya Tuhan sedang mengujinya untuk membuat ia tangguh. Tapi, barangsiapa gagal menghadapi cobaan -sesuai kadarnya- maka sesungguhnya ia telah gagal mencapai derajat keimanan. Analogi ini tepat untuk PKS. Pilihannya sederhana; jika sukses menghadapi 'cobaan demokrasi' ini, maka PKS akan semakin kuat dan beranjak menjadi salah satu kekuatan politik utama di Indonesia, sebaliknya jika gagal, maka PKS mengikuti pendahulunya partai-partai Islam yang 'masuk kotak', justru karena demokrasi.

Di atas itu semua, patut diapresiasi pilihan politik PKS untuk 'berani bertarung' dalam Demokrasi. Ketika beberapa gerakan Islam lainnya justru tidak berani berpolemik dalam politik, PKS justru masuk dalam politik praktis. 'Percuma saja berlayar, kalau takut Gelombang' begitu mungkin gubahan yang tepat. Maknanya; 'Buat apa punya cita-cita perubahan, kalau takut menghadapi cobaan demokrasi?'

*) Khairurrizqo adalah mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia dan peneliti budaya politik di Hikaam Institute Jakarta.


http://www.detiknews.com/read/2011/04/15/145946/1618327/103/pks-dan-cobaan-demokrasi?nd991107103
Read More...

Berperang Melawan Logika Badar

*ilustrasi
Kesedihan saya hilang sore ini, anehnya setelah dicemooh pada asumsi kepartaian saya karena jilbab panjang, dan berita miring yang terus berhembus beberapa hari ini, pada sebuah forum yang sebenarnya membahas tentang prospek pelatihan petani. Seperti ada ilham yang datang pada kediaman saya, bisikan perlahan tentang kemanusiaan dan logika yang bermuara tentang negeri ideal, pemerintahan impian tetapi berakhir pada makian mental-mental pecundang. Yang bermimpi memiliki pahlawan tetapi tidak mau melahirkan, membesarkan lalu mendidik gen-gen kebesaran untuk bertahan pada tsunami-tsunami panjang kehidupan.

Kepedihan ini akan saya singkirkan sebentar, sedikit saya nikmati mungkin, karena saya merasa ribuan pedih yang sama sedang merajuk pada Rabbnya, merebah dan merendah mengingat jalan panjang yang dulu sering kami nyanyikan pada nasyid kesukaan tetapi ketika kami jalani saat ini kenapa rasanya begitu getir, nyinyir seakan diludahi sampah oleh cemoohan banci orang-orang sakit hati.
Dulu, ketika memutuskan berhijab disaat popularitas perempuan berjilbab di SMA saya tidak lebih dari 3 %, saya ingat saya hanya punya jilbab satu2nya dengan rok jelek pemberian senior. Sisanya digunting dan dibuang oleh wanita yg paling saya sayangi. Pada pagi yang sama ketika sebuah gelas yang dilempar kepada saya pada tanda Tanya besar kenapa saya harus norak menutup rambut saya. Sementara 6 bulan yang lalu shalat lima waktu masih begitu asing.

Pagi itu Ramadhan yang akan begitu berkesan pada sepanjang hidup saya. Sepanjang hidup keislaman saya, pada seorang perempuan yang memperkenalkan saya shalat dhuha di tengah shalat wajib saya yang entah kemana, pada seorang sahabat yang menyemangati saya untuk pidato kebangsaan di tengah kelas tentang bahayanya kemunafikan mencontek , pada keikhlasannya mengajarkan saya beda Kho dan Kha beda Shod dan Sa, sementara ongkosnya saja untuk kuliah hasil dari berjualan Sabili dan Annida. Pada seorang ikhwan yang jatuh terluka karena terlalu menunduk menahan syahwat remajanya yang sedang jatuh cinta. Pada seorang sahabat yang mengajarkan tentang rasa hormat dan sayang pada orang tua, pada kondisi seberat apapun, setidak ideal apapun, sementara putus asa sudah di depan mata, dan bertahun kemudian saya merasakan kenikmatan birrul waliddain itu karena dia.

Saya sudah benar-benar jatuh cinta..pada keikhlasan-keikhlasan itu, air mata-air mata itu, pada mereka yang selalu bersabar pada kesulitan dan kemiskinan hidup mereka, pada mereka yang bersyukur dan zuhud pada kegemilangan harta mereka. Saya tak bisa lari dari mereka, saya senang menangis bersama mereka, menerima do’a-do’a rahasia mereka dan kenikmatan ukhuwah melalui kejutan-kejutan kecil dalam kebaikan tak berpamrih dari mereka yang mengemis jalan Muhammad.

Faham sekali kalau yang berkembang dinegeri saya sekarang bukanlah Islam yang bisa dibunuh seperti membunuh seorang bayi. Pencet saja hidungnya dia akan mati. Islam yang ini harus dikejar dengan sniper, dihitamkan dengan tipu-tipu, diibumihanguskan dengan kelicikan otak berIQ hampir 200 sedang keimanan NOL. Dengan sogokan Bantuan Sosial ala AMerika, Dengan Media berpenyakit AIDS milik konglomerat yang murtad jadi politisi.

Islam yang ini harus jauh-jauh dari politik, diam-diam saja di Masjid. Larangan jangan sok suci ini akan terus disuarakan pada bangkai demokrasi buatan Yunani editan Thomas Jefferson. Karena Materialisame Ideologi dan Logika sekarang adalah ala Tan Malaka, Mark Zuckerberg dan Punjabi. Lebih sering youtube dan American Idol.

Bukan salah bapak pak, salah saya, karena beberapa hari sebelumnya saya pun membuka email berisi virus untuk melihat aurat yang tidak seharusnya. Saya… baut kecil ini bermaksiat…lebih parah dari bapak…karena saya melihatnya hanya berdua saja dengan Allah dan para malaikat, tidak ada yang mencemooh atau membuat saya merasa rusak-serusaknya…lalu bertaubat dan hanya bisa pasrah menunggu azab neraka, sementara bapak..mungkin sudah impas Pak ;). Dapat bonus malah..

Bukan salah ibu, salah saya, saya yang sering meniadakan dhuha dalam pagi saya, berma’tsurat dengan facebook dan tilawah lagu India, pada Shubuh yang disibukkan dengan mimpi menulikan telinga pada azan yang mengumandang di sana. Astaghfirullahh…al’adziem..

Saya memilih jalan ini bukan karena berharap mereka tidak pernah salah, tetapi saya yakin mereka selalu berusaha benar, meski pedang itu bisa saja mengiris ulu hati terdalam karena kebodohan, fitnah dunia, perempuan dan setan futur dalam iman.

Bertahan saja saudaraku bertahan disana, karena keputusan syuro berenang di senayan sudah selesai. Saatnya hadapi sama-sama. Saatnya kita songsong kemenangan Khaibar, meski mungkin do’a kita harus jauh lebih khusyuk dan merendah sampai kutub paling dalam gaya Do’a Badar Rasulullah. Kita memang anak kecil yang masih belajar melawan beruang. Tapi kau punya bahasa kemenangan Al-Quran. Bertahanlah. Kita perbaiki perlahan semua hal yang salah. Kita diskusikan Teori Konflik dan Diplomasi ala Yahudi, Kita Bahas lagi tentang koalisi, Kita cari rezeki untuk jadi Raja Media paling tajir di negeri ini.

Saya memilih jalan ini bukan karena berharap mereka tidak pernah salah, tetapi saya yakin mereka selalu berusaha benar, meski pedang itu bisa saja mengiris ulu hati terdalam karena kebodohan, fitnah dunia, perempuan dan setan futur dalam iman.

Saya akan tetap berdiri disini, meski saya harus sok tahu bagaimana rasa gemas seorang Umar bin Khatab karena Rasulullah menandatangani perjanjian Hudabiiyah, karena menganggap terlalu merusak tinggi harga diri, mengobral keberanian ksatria Badar, padahal jauh di masa depan, perjanjian itu mendatangkan kemenangan atas Mekah, Persia dan Romawi.

Saat ini, bahasa politik anda juga membuat saya pening menahan muntah. Saya, saya adalah oposan terberat anda, anda boleh membangun gedung itu, tapi saya bakar dulu gedung yang lama, anda boleh menaikkan kembali gaji anda, tapi saya akan jadi Robbin Hood yang merampok anda di jalan sampai sisa kaos dalam anda lalu saya berikan ke petani Papua sana. Saya, tidak suka anda jadi Menteri dan Koalisi subtitusi. Jadi oposan saja selamanya. Oposan kemungkaran dan korupsi. Titik. Penghabisan sampai mati.

Tapi saya juga hampa dalam mengusulkan solusi, saya tidak sanggup membangun revolusi, mencari pengganti idealis untuk negeri ini, saya terus saja kelaparan mencari pahlawan, dan terjebak menjadi komentator payah yang kekenyangan umpatan dan celaan tapi diam tak bergerak dengan gemuk perut dan lemak dunia atas nama nafkah keluarga. Dan menyadari, masuk ke sistem itu adalah pilihan buruk diantara yang lebih buruk karena konsekuensinya adalah persaingan dagang yang lebih menyedihkan dari tanam paksa dan neoliberal.

Dan saya
menyepakati bahwa senayan harus dicuci perlahan-lahan.
Bertahan dalam terjangan ini,
membuat kekerdilan saya pada titik nadirnya.
Izinkan saya berbisik ya Allah, kutitipkan dalam sayap malaikatmu malam ini
Saya akan bertahan pada jalan ini karena Allah,
Sampai senandung revolusi keimanan menjadi gaung di negeri sakit hati ini
Saya akan bertahan pada jalan ini karena Allah
Sampai Kau maafkan kami karena kelalaian dan kebodohan kami
Saya akan bertahan pada jalan ini karena Allah
Sampai perut-perut lapar di ujung pelosok negeri ini menjadi penuh karena kebaikan dakwah ini
Saya akan bertahan pada jalan ini karena Allah
Pada komitmen dhuha dan hafalan kami yang sedikit, pada getirnya merealisasi cita-cita tentang kesholehan yang kau ridhai, pada rahasia cinta dan keikhlasan Musa dan Ibrahim dan celengen kami yang tak jua bertambah untuk pergi Haji.
Saya akan bertahan pada jalan ini karena Allah, meski luka dan darahnya harus kami hisapi sendiri ditengah kegemilangan parodi dunia yang tidak berharga lagi
Sampai kafan putih kami berbau kesturi
Lalu kami menangis sedih karena lalai berimbas pada Istana kami yang kurang tinggi di syurga nanti.
Kutitipkan Baiat ini padamu ya Allah dengan Bismillah, Istighfar dan Hamdallah. Dan memohon agar kau matikan kami dalam kondisi terbaik di hadapanmu.

Dan Kau Jadikan kami rendah dihadapan diri kami sendiri
Tengah-tengah dihadapan manusia
Tetapi Kau jadikan kami tinggi di hadapanMu
Pada ruku dan sujud ratapan kami

-Shalahuddin Zara-

Read More...

PKS Tetap Beda

Dua bulan terakhir, PKS seolah menjadi actor antagonis dari sebuah drama politik yang entah disutradarai oleh siapa. Semuanya bermula ketika PKS ngotot menggulirkan hak angket mafia pajak. Bersama Partai Golkar,  PKS menjadi partai yang berbeda sikapnya dengan partai koalisi pendukung SBY terkait hak angket tersebut. Ketika akhirnya pendukung hak angket kalah  dalam voting, saat itu pula drama politik PKS bergulir.

Diawali dengan isu korupsi daging impor yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, video mesum tidak mirip Anis Matta, lalu secara tiba-tiba muncul Yusuf Supendi yang menggugat petinggi PKS dengan berbagai tuduhan, hingga berujung pada kasus Arifinto yang tertangkap kamera wartawan sedang “melihat” materi porno di ipadnya saat Sidang Paripurna.

Hujatan publik mengalir deras. Cercaan dan makian bertubi-tubi menghujani tubuh PKS. Kata mereka: “PKS menjual agama”; “ PKS partai munafik”; PKS partai porno”; “PKS tak ada bedanya dengan partai lain”.  Benarkah PKS sama dengan partai lainnya?

PKS Tetap Beda!

PKS bukanlah kumpulan malaikat yang karena tak punya nafsu maka tak bisa berbuat salah. PKS juga bukan kumpulan setan yang setiap saat selalu berbuat salah dan berkewajiban mengajak orang lain untuk mengikuti jejaknya.

PKS hanya jamaah manusia yang berusaha seoptimal mungkin “mendekati” kesucian malaikat untuk tak berbuat dosa dan disaat yang sama berusaha semaksimal mungkin menjauhi setan agar tak terjerumus dalam kesesatannya.

Setiap pekan kader PKS mengkaji Islam sebagai cara kader PKS mengenal lebih dekat ajaran Allah yang dibawa oleh Rasulullah saw. Setiap pekan kader PKS di mutaba’ah: berapa kali kader PKS sholatjamaah?; berapa kali kader PKS sholat sunnah?; berapa kali kader PKS puasa?; berapa kali kader PKS membaca dan mentadabburi al-Qur’an?; berapa kali kader PKS sholat malam?; berapa kali kader PKS berinfak?; berapa kali kader PKS bersilaturahim?; berapa kali kader PKS membaca buku?; dan berapa kali kader PKS melakukan amal-amal kebaikanlainnya?

Itu semua sebagai cara kader PKS mempraktekkan ajaran Islam yang lengkap dan paripurna. Itulah cara kader PKS menjauhi perbuatan dosa. Itulah cara kader PKS mengendalikan nafsu. Itulah cara kader PKS “mendekati” kesempurnaan malaikat yang bebas dari dosa. Dan, sekali lagi, itulah cara kader PKS menjauhi godaan setan yang tak pernah kenal lelah mendatangi kader PKS dari seluruh penjuru mata angin, bahkan hingga merasuk kedalam hembusan nafas dan aliran darah kader PKS.

Beberapa pekan sekali kader PKS mabit untuk membersihkan hati dari debu-debu dosa. Kader PKS  sholat malam berjamaah, kader PKS bermuhasabah,  kader PKS mengkaji Islam. Begitu indah. Suasana kebersamaan begitu terasa. Kader PKS terikat bukan hanya karena factor politik;  tapi ikatan iman dan aqidah.

Adakah partai lain melakukan apa yang PKS kerjakan? Sejauh pengamatan kami: belum ada! Bagi kader PKS, partai hanya sebuah sarana dakwah; bukan tujuan; bukan segala-galanya.
Lalu, mengapa masih ada kader PKS yang terjebak rayuan maut setan?

Itulah bukti bahwa kader PKS manusia;  bukan malaikat. Bukti bahwa setan tak kenal lelah menggoda manusia dengan berbagai trik jitu dan halus. Bayangkan, kader PKS saja yang berusaha keras menginternalisasi nilai-nilai Islam kepada paraanggotanya, ternyata masih kecolongan. Lalu, bagaimana jadinya dengan partai lain yang Cuma menjadikan politik sebagai sarana merebut dan mempertahankan kekuasaan?

PKS Tetap Beda!

Bagi yang menganggap PKS sama dengan partai-partai lain, perhatikanlah baik-baik setiap kasus yang menimpa PKS. Semuanya baru dugaan dan tak pernah diajukan kemeja pengadilan. Kasus korupsi daging impor yang dimuat di Majalah Tempo, hingga hari ini tak pernah masuk keranah hukum. Bahkan, kalau mau jujur, apa yang menimpa Arifinto, belum terbukti benar.  Sejauh ini, media menghakimi Arifinto sengaja membuka situs porno, yang kemudian dibantah oleh Arifinto bahwa ia hanyamembuka link email.

Dan inilah yang membuat PKS tetap beda dengan partai lainnya. Meski belum terbukti, Arifinto langsung mundur sebagai anggota DPR. Tahukah jika di gedung dewan yang terhormat itu, teramat banyak anggotanya yang jelas-jelas sudah terbukti bersalah, namun tak mau mundur dengan alasan kasusnya belum memiliki kekuatan hukum tetap?

Tahukah jika disana banyak tindakan anggota dewan yang jauh lebih menjijikkan dan memalukan dibanding Arifinto? Tidur saat sidang, jarang hadir,  menelepon dan bermain ipad. Tapi mereka tak malu. Dan karenanya mereka tak mau mundur.

PKS Tetap Beda!

Lihatlah saat PKS melakukan pergantian pucuk pimpinan partai. Tak ada gontok-gontokan. Tak ada keributan. Tak ada politik uang. Tak ada kursi terbang di atas kepala. Tak ada kata-kata makian yang terlontar. Semuanya berlangsung smooth. Bahkan tak jarang di antara kader PKS saling mempersilakan diri untuk menjadi pemimpin.

Itu karena bagi kader PKS, menjadi pemimpin adalah amanah berat yang kelak harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Menjadi pemimpin di DPC, DPD, DPW atau DPP bukanlah tiket untuk menjadi anggota dewan atau menteri. Dan karena itu pula, tak ada dalam kamus kader PKS untuk mati-matian memperebutkannya.

Bandingkan dengan partai lain. Setiap dihelat munas, rapimnas, mukernas atau yang sejenisnya, selalu saja berita yang tersaji sangat tidak elok untuk didengar. Isu suap, perkelahian di ruang sidang, kursi terbang, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, ketika ada pihak yang kalah, maka mereka akan keluar dari partai dan membuat barisan baru.

PKS Tetap Beda!

Masih ingatkah dengan tradisi politik adiluhung yang dilakukan PKS sejak dulu? PKS mengharamkan rangkap jabatan. Tak ada dalam kamus PKS, seorang pejabat public juga menjadi pejabat partai. Di mulai dengan mundurnya Nurmahmudi Ismail yang saat itu diangkat menjadi menteri Kehutanan oleh Gus Dur. Ia mundur sebagai presiden partai untuk menghilangkan konflik kepentingan. Tradisi itu terus PKS lakukan hinggasaat ini.

Bukankah secara kasat mata saja, terlihat perbedaan PKS dengan partai lain? Di saat PKS mengharamkan rangkap jabatan, di saat yang sama partai-partai lain justru dengan sengaja menjadikan pimpinan partainya merangkap jabatan sebagai pejabat publik. Kita bias melihatnya sekarang: betapa banyak pimpinan partai yang menjadi menteri.

PKS Tetap Beda!

Slogan PKS sebagai partai yang peduli, bukan pepesan kosong. Berapa kali sudah PKS berada di garda terdepan saat bencana dating menghantam negeri kita tercinta. Di Aceh kala tsunami menerjang; Di Yogyakarta kalagempa mengguncang; di Padang dan Mentawai saat lindu menggoyang; juga di Yogyakarta kala Merapi meradang. Kepedulian PKS adalah wujud Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Praktek nyata dari keindahan nilai-nilai Islam dalam memandang kemanusiaan.

Itulah yang membedakan PKS dengan partai lain. PKS hadir setiap hari: dimana pun dan kapanpun. PKS tak hanya hadir saat menjelang pilkada atau pemilu. PKS tak hadir lima tahun sekali dengan membagi-bagi sembako, kaos, jilbab dan uang.  Tak semurah dans erendah itu PKS menghargai rakyat.PKS hadir setiap saat ketika masyarakat membutuhkan PKS.

PKS Tetap Beda!

Meski kader PKS mulai dihinggapi persoalan-persoalan yang mirip dialami kader partai lainnya, tak serta merta membuat PKS sama. Kasus Arifinto yang menurutnya tak sengaja membuka konten porno   tentu saja jauh berbeda dengan kasus sejenis yang dialami kaderpartai lain. Arifinto bukanlah Yahya Zaini atau Max Moein yang jelas-jelas telah berzina.
Akhirnya, kami hanya ingin mengingatkan: Toyota Alphard dan Bajaj tetaplah berbeda meski keduanya memiliki bentuk roda yang sama yakni bundar.

Wallahua’lam bishshowab.


Erwyn Kurniawan
 
Read More...

Inilah Jawaban Kami...


"astaghfirullah,memalukan,inikah partai dakwah,dakwah porno?dl pks skrg gk respek lg"

Komen diatas dari seseorang yang memberi comment di akun facebook ane. Apa jawaban ane? sebagai kader ecek-ecek alias kelas teri yang hidup di dusun alias grass root, yang menyadari betapa kecilnya peran diri ini dibanding para qiyadah dengan segudang amanah, inilah yang ane jawab:

Inikah partai dakwah? YA. 100% KAMI TAK PERNAH SANGSI. Kok ada yg berbuat begitu? Husnudzon di awal, itu perintah Allah dan tuntunan Nabi. Kalo memang terbukti? hukum yg akan bicara. Apa ada orang yang tidak pernah berbuat salah?

Menodai partai dakwah? KALO TERBUKTI, noda itu tinggal dibersihkan. Kalo tdk bisa dibersihkan? diamputasi (pecat). Dan tanpa gembar-gembor, PKS sudah banyak menjatuhkan sangsi kepada kader-kadernya yang terbukti melanggar AD/ART dan etika.

Memalukan kami? TIDAK. Tapi sbg pembelajaran bg kami, YA! Kenapa harus malu u/ mengakui dan bertobat KALO ITU TERBUKTI SALAH? Hanya iblis yang sombong untuk mengakui kekeliruan diri.

Gara2 begini kami jadi berhenti? TIDAK. TAKKAN PERNAH. Krn dakwah ini tidak ditentukan satu dua orang. Bahkan seandainya semua meninggalkan arena dakwah, kami tlah ber'azam takkan pernah meninggalkan jalan dakwah ini. Kami berdakwah bukan u/ berharap puja puji atau takut dicaci. Allah-lah tujuan kami. Kalo ada yg bersalah diantara kami, Allah pula sudah memberi guide: BERTOBAT dan dimaafkan atau KALO TDK MAU BERTOBAT sungguh azab Allah sangat pedih hanya dibanding caci maki!

Mungkin komen ane ini ada yang akan mengomentari: "kasihan kader lapisan bawah yang ikhlas berjuang dan tsiqoh pada qiyadah, tapi qiyadahnya sudah pada menyimpang, hidup bergelimang dunia". Saya akan katakan: "Kasihinilah dirimu sendiri, yang hidup bergelimang prasangka dan dusta. Kasihinilah dirimu sendiri, yang lebih memilih menyendiri diterkam srigala dibanding teguh dalam jamaah penuh berkah, kasihinlah dirimu sendiri yang tiada henti sibuk mengorek orang lain tapi melupakan aib diri sendiri".

Hasbunallah wani'mal wakil... kami yakin semua sudah dalam skenario Allah, tak ada satupun yang kebetulan semata. Cukuplah Allah bagi kami...

*)penulis: admin pkspiyungan

*posted: pkspiyungan.blogspot.com
Read More...

Arifinto, Penyimpangan 'Private' Vs Penyimpangan Publik

Jakarta - Walau mengaku khilaf karena telah membuka link e-mail berisi konten asusila dan
menegaskan mundur dari DPR, publik sepertinya belum bisa melepaskan Arifinto begitu saja. Kritik, tekanan hingga cacian sampai hari ini masih deras mengalir. Begitu fatalkah kesalahan Arifinto sehingga tidak ada lagi ruang maaf yang tersedia untuknya? Bukankah kesalahan yang dilakukan oleh Arifinto sebenarnya bersifat 'private'? Jika demikian bagaimana seharusnya kita memandang kasus Arifinto?

Pemimpin Zonder Ruang Privat

Perilaku publik yang melakukan penghakiman secara massal terhadap pelanggaran moral
memang bukan fenomena asing. Masyarakat dengan budaya yang paling permisif seperti
Amerika Serikat sekalipun, terbukti sangat sensitif terhadap skandal private yang dilakukan oleh Bill Clinton dengan Monica Lewinsky. Sebuah studi yang dilakukan oleh John Dardis (lihat John Dardis, Speaking of Scandal, Studies: An Irish Quarterly Review, volume 89) menyebutkan bahwa, pola penghakiman publik terhadap skandal pribadi para elit yang terjadi antara tahun 1940 hingga 2000 tetap sama walau terjadi di tiga benua (Eropa, Amerika dan Asia) yang berbeda dengan karakter sosial yang berbeda pula.

Dardis menyimpulkan bahwa, ketika seorang individu menempati posisi publik, saat itu
juga hak-hak ruang privat yang dimilikinya luruh. Pada saat yang bersamaan, publik juga menyematkan standar perilaku yang berbeda kepada para pemimpin mereka. Di banyak tempat, standar moral yang berlaku bagi para elit jauh lebih tinggi ketimbang pola kebiasaaan masyarakat jamak. Ini berarti publik cenderung menerapkan standar ganda untuk para elite pemimpinnya. Salahkah ini?

Distraksi Penyimpangan Publik

Tentu, masyarakat berhak untuk berharap memiliki pemimpin yang besih dari
penyimpangan moral pribadi. Dari sudut pandang yang berbeda, publikasi skandal pribadi elit bisa berfungsi sebagai alarm penjaga nilai-nilai moral sosial. Artinya, publik yang masih bisa meratapi skandal para pemimpinnya tentu lebih sehat ketimbang publik yang telah mati rasa.

Namun ini semua bukan tanpa efek samping. Bila penghakiman terhadap penyimpangan
moral private terjadi secara berlarut, masyarakat cenderung lengah terhadap bentuk
Lihat John Dardis, Speaking of Scandal, Studies: An Irish Quarterly Review, volume 89. penyimpangan yang memiliki daya rusak lebih besar. Penyimpangan Publik. Secara sederhana penyimpangan jenis ini terjadi ketika seorang individu menyalahgunakan jabatan publik yang dimiliki. Penyimpangan publik dapat muncul dalam pola yang paling sederhana sampai yang paling rumit. Dalam pola yang paling sederhana, penyimpangan publik muncul dalam bentuk abuse of power, otoritarianisme atau bahkan egoisme elitis. Sementara, dalam pola yang lebih rumit, penyimpangan publik muncul dalam bentuk manipulasi kekuasaan, kolusi hingga korupsi kolektif. Hasilnya tentu saja, terhalanginya hak masyarakat untuk mengecap kesejahteraan.

Sekadar deskripsi sederhana, ICW menilai sepanjang tahun 2010 ada potensi kerugian
negara akibat korupsi sebesar 3,6 trilliun rupiah. Angka ini sama nilainya dengan jumlah dana yang dibutuhkan untuk menambah penghasilan guru seluruh Indonesia pada 2010 lalu. Atau contoh egoisme elitis yang ditunjukkan oleh DPR dalam pembangunan gedung baru, yang juga tidak kalah destruktif. Selain mengabaikan permintaan SBY untuk berfikir ulang, ketika diingatkan akan nilai kesederhanaan, Marzuki Alie yang juga Ketua DPR balik bertanya, "Apakah parameter kesederhanan?" Apakah seperti model Rumah Sangat Sederhana?

Tak cukup sampai disitu, dalam sebuah wawancara, koleganya kembali menimpali, "Apakah anggota Dewan harus bekerja dalam gubuk derita?". Pernyataan seperti ini tentu sangat melukai perasaan masyarakat. Apalagi jika ditimbang-timbang, angka 1,13 triliun rupiah itu sama nilainya untuk membangun 32.000 sekolah di seluruh Indonesia (hasil penghitungan yang dilakukan oleh Emmerson Yuntho).

Kedua contoh di atas merupakan sekelumit dari besarnya daya rusak yang ditimbulkan
oleh penyimpangan publik. Penyimpangan private yang dilakukan oleh elit memang tidak
pantas untuk memperoleh pembenaran dengan cara apapun, namun jangan sampai menjadi pengalih perhatian atas aneka ragam bentuk penyimpangan publik yang jelas-jelas terjadi di depan mata.

*) Rico Marbun, peneliti The Future Institute, staf pengajar Universitas Paramadina dan PTIK. Email: ricoui@yahoo.com


http://www.detiknews.com/read/2011/04/14/082331/1616635/103/arifinto-penyimpangan-private-vs-penyimpangan-publik?nd991107103  
Read More...