Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Alphard sang Ustadz


Lagi-lagi saya melihat betapa tidak adilnya masyarakat negeri ini. Ketika mereka teriak-teriak minta keadilan ternyata mereka sendiripun berbuat yang jauh dari nilai-nilai keadilan. Yang paling mudah kita lihat adalah bagaimana mereka memukul seseorang yang diduga maling dan belakangan terbukti dia bukanlah seorang maling dan hanya mahasiswa yang kebetulan ada di dekat sebuah motor. Maka saya pikir, tak heran rasanya kemudian negeri ini dikaruniai dengan hakim-hakim yang tak adil, pemimpin yang dzalim, aparat yang membunuh dengan sewenang-wenang dan aneka macam bentuk ketidak adilan lainnya. Karena mereka adalah bagian dari masyarakat juga, bagian dari masyarakat yang juga tak menjunjung keadilan.



Salah satu yang cukup merisaukan saya adalah tentang Alphard sang Ustadz. Yah, entah kenapa sepertinya ustadz di negeri ini gak boleh kaya. Kalau kaya pasti dibilang mata duitan, korupsi, membodohi jamaahnya dan aneka sebutan lainnya. Ustadz di negeri ini gak boleh punya Alphard, gak boleh punya jaguar, gak boleh punya rumah mewah. Ustadz haruslah kemana-mana naik motor butut, kalau hujan kehujanan dan kalau panas kepanasan. Bajunya haruslah baju yg beliau beli puluhan tahun yang lalu sehingga warnanya lebih mirip coklat daripada putih.

Saya ingat sebuah cerita tentang seorang konsultan. Konsultan muda ini tidak memiliki mobil sehingga kemana-mana naik motor. Dia mengaku kesulitan mendapatkan klien, padahal dari segi ilmu dia sangat mempuni dan kemampuannya layak diacungi jempol. Suatu ketika konsultan ini bertemu konsultan lain, temannya menyarankannya untuk membeli sebuah mobil. Konsultan muda ini bingung, gimana belinya kalau job lagi sepi gini. “udah beli aja pakai cicilan”, kata temannya.

Akhirnya konsultan muda ini kemudian membeli sebuah mobil dan ajaibnya setelah kemana-mana dia naik mobil, kliennya kemudian bertambah banyak. Job-job couching pun berdatangan.

Manusia bagaimanapun baik hatinya akan melihat sesuatu dari fisik karena memang Allah memberi kita hanya kemampuan melihat fisik semata. Kita belum bisa melihat isi hati seseorang. Bahkan kemampuan seseorang pun tak dapat kita lihat di pertemuan pertama. Dulu ketika konsultan ini naik motor, calon kliennya pasti menganggapnya sebagai konsultan kacangan. Gimana mungkin orang naik motor akan jadi konsultan bos yang naik mercy? Maka ketika konsultan ini membeli mobil yg lumayan mewah, calon klien inipun lebih menghormatinya.

Hal yang sama terjadi pula dalam dunia dakwah. Rasanya sangat sulit diterima ketika ada ustadz dengan motor bututnya kemudian datang kepada pengusaha yang mercy-nya berjejer di depan rumah. Bisa-bisa belum ketemu pengusahanya, dia sudah diusir oleh satpam perumahan. Baca lagi, satpam perumahan lho, bukan satpam rumah.

Saya kembali ingat cerita seorang rekan dakwah yang pusing nyari pinjaman mobil mewah. Untuk apa? Untuk dipakai oleh seorang ustadz yang hendak mengunjungi seorang bos perusahaan terkenal. Akhirnya, dipakailah uang partai untuk menyewakan mobil mewah untuk sang ustadz. Dan alhamdulilah, dengan memakai mobil mewah, sang ustadz dapat melenggang dengan santai hingga ke meja sang bos dan selanjutnya bisa ditebak, bos inipun semangat mendukung dakwah.

Sekarang saya tanya, untuk menghadapi 1 bos saja musti sewa mobil mewah bagaimana dengan ustadz-ustadz di DPP yang wajib bertemu aneka bos yang bukan hanya level tingkat kota atau propinsi, tapi melobby bos-bos perusahaan multinasional. Apakah masih bisa bos2 itu dikibulin dengan mobil sewaan?

Ya.. memang dakwah tidak boleh bergantung pada hal-hal duniawi. Tapi dakwah butuh strategi, butuh gerakan cantik untuk dapat masuk ke ruang2 yang selama ini tak tersentuh dakwah.

Satu kesan yang sangat melekat dalam pikiran saya adalah ketika saya diminta ikut membantu persiapan munas di kota Surabaya. Waktu itu kebetulan saya bagian mengatur penjemputan saudara2 yang dari luar kota di bandara Juanda.

Ada beberapa qiyadah dari DPP yang sudah kita siapkan mobil Alphard untuk menjemput mereka. Tahu ndak, beberapa diantaranya justru ikut rombongan yang waktu itu naik Xenia. Ada pula yang bersedia naik Alphard karena memang sudah tersedia disana. Bahkan ada yang terang-terangan berkata, saya dari DPP tapi bukan bagian rapat, biar saya naik bis saja, jemputannya biar untuk peserta. Dyarr…

Sayapun coba berpikir kembali, kenapa para ikhwah itu jadi begitu cerewet untuk urusan simple seperti ini. Apakah hal seperti ini tak pernah mereka ketahui dalam sejarah para sahabat Rasulullah? Bagaimana gubernur mesir di jaman Umar justru begitu kaya raya. Setelah ditanya Umar, beliau menjawab, rakyatku adalah rakyat yang makmur, lebih mudah mereka mematuhi perintahku jika aku sederajat dengan mereka.

Sementara kita, kita yang menghadapi bos sebuah bengkel yang gak punya cabang dimana-mana aja gemeteran, apakah mau dikasih Alphard juga? Kita yang ketemu manajer aja mungkin gak akan bisa karena terhalang satpam apakah juga iri dengan para qiyadah yang langsung berhubungan dengan bos-bos perusahaan multinasional.

Dakwah ini harus membesar. Tak selamanya kita hanya berkutat dengan masyarakat miskin dan tersisihkan. Kita harus berbagi tugas. Kita-kita yang hidup di lingkungan menengah ke bawah, membantu para qiyadah dalam membantu mereka yang hidup di bawah kita. Sementara bagaimana melobby para bos-bos partai, bos-bos perusahaan biarlah para qiyadah yang sudah dipersiapkan secara khusus oleh jamaah.

Dan jikalau para ustadz itu kemudian mengkhianati amanah dengan hanya menikmati kekayaan yang diberikan oleh jamaah tanpa melakukan kewajibannya sebagai da’i untuk kalangan atas, maka biarlah Allah yang memberikan keputusan. Jangan sampai kemudian justru kita yang sudah tak bergerak dalam dakwah, malah menambah dosa dengan ghibah dan memfitnah para qiyadah kita.

Wallahu a’lam…

sumber : http://bejopaijo.wordpress.com/2012/11/18/alphard-sang-ustadz/
Read More...

Nasihat Ust. Rahmat Abdullah

  • Ada dua hal yang harus kita ingat dengan baik, kebaikan orang lain kepada kita dan keburukan kita kepada orang lain. Dan ada dua hal juga yang harus segara dilupakan, kebaikan kita terhadap orang lain dan keburukan orang lain kepada kita. 

  •  Diantara sekian jenis kemiskinan yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azzam dan tekad, bukan kemiskinan harta. Kemiskinan azzam akan membawa pada kebangkrutan dari segi harta. Azzam dan kemauan  yang kuat kelak akan membuat kita berilmu dan kaya. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan, dan kerja keras.

  •  siapakah yang patut dibilang teroris? Apakah yang membela diri karena diserang atau yang menyerang karena ingin menghancurkan.

  •  Dakwah berkembang di tengah orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tidak pernah pudar, ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tidaklah panjang. Tetapi, cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka. apa artinya usia panjang namun tanpa isi sehingga kita kelak akan diingat oleh tiga baris kata yang dipahatkan di atas Nissan kita. Si fulan lahir tanggal sekian dan wafat tanggal sekian.

  •  kita harus bergerak. Kitalah yang membangkitkan kesadaran umat untuk kembali pada asholah dakwah ini. Siapakah orang yang akan membawanya bukanlah orang-orang yang berdiri di pinggir dakwah. Orang-orang yang hidup dalam dakwah ini, yang mempergunakan dakwah ini, yang mengharapkan semua orang dari dakwah ini. Tidak! Rasulullah SAW mengatakan, semangat memuda mulai dari mana? Dari kita. Kembalilah pada asholah dakwah. Bangkitkan semangat antum. Contohlah Rasulullah SAW, jadilah agen perubahan di dalam masyarakat. Kembalikan tiang-tiang dakwah ini. Antum berlarilah ke seluruh dunia untuk mengabarkan dakwah ini untuk membangkitkan dakwah ini.
  • Setelah berazzam, Allahlah yang mengurus semua itu. Allahlah yang mengurus hidayah itu. Tidak usah bersedih,

  • Orang-orang itu membuat tipu daya. Dan Allah membalas tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembuat tipu daya.

  • Kader yang tulus dan bersemangat tinggi, pasti akan memiliki wawasan berfikir yang luas dan mulia. Manusia yang memiliki akal akan bisa mengerti akan berharganya cincin berlian. Tetapi, anjing yang ada di samping cincin berlian tidak pernah mengapresiasi cincin berlian itu. ia akan berlari mengejar tulang lalu akan mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya.

  • Dakwah rasanya kendur, seolah ada sesuatu yang hilang…
Kendur dan tidaknya dakwah ini kita lihat dari asal muasalnya kita ingin dalam dakwah ini. Dakwah ibarat kita sedang membuka lahan  yang baik. Kalau sudah dapat benih maka kita tanam. Tempat menanam juga harus yang baik. Tapi, terkadang setelah tumbuh ternyata ada belut yang merusak..
  • Ya pejuang dakwah yang dicintai Allah SWT!
Allah menciptakan apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Ini semuanya agar kita berfikir, menela’ah apa yang bisa kita ambil pelajarannya.
  • Berapa banyak orang menguasai ilmu serta dikenal sebagai ilmuan ulama atau da’I, namun kehilangan potensi hati nurani. Mereka yang hanya mengejar dunia yang memiskinkan rakyat dan menguras kekayaan bangsa untuk kepentingan sendiri adalah anjing yang terjebur di telaga bening karena kebodohannya menerkam bayangannya sendiri.

  • Kalau hanya berdakwah kita memang bisa. Tetapi, apakah kita bisa cinta dengan dakwah? Cinta itu butuh pengorbanan, waktu, tenaga dan harta. Allah telah menggirng kita kepada keimanan dan dakwah saja merupakan suatu kenikmatan besar.
Pantaskah kita berharap imbalan yang lebih dari itu? apalagi berupa jabatan, kesenangan atau kemewahan.

  • Banyak orang tertawa sedang maut mengintainya. Banyak orang yang datang ke shaf shalat tapi ternyata cepat dpula ia pergi. Dingin tanpa penghayatan. Banyak orang yang sedikit beramal, tapi disebutnya banyak sekali.
Merendahlah, engkau kan seperti bintang gumintang dipandang berkilau di atas riak air dan bintang pun jauh tinggi. Jangan seperti asap yang mengangkat dirinya tinggi di langit. Padahal dirinya rendah hina.

Nasihat Sang Murabbi, KH. Rahmat Abdullah. Dikutip dari penggalan kalimat dalam film Sang Murabbi,mencari spirit yang hilang…
Read More...

Karena Hidup Bukan Menunda Kekalahan

Hidup itu bukan perjalanan yang datar. Atau bergerak linear. Ada lika-likunya. Ada suka dan duka. Ada keberhasilan di satu waktu, kadang kegagalan di waktu lainnya. Bahkan iman, "yazidu wa yanqus" suatu saat naik, suatu ketika turun.

Maka mempertahankan azam dan cita-cita adalah energi jiwa yang membuat manusia mampu bertahan dalam kebermaknaan hidup. Memiliki harapan yang akan digapai adalah bahan bakar yang membuat nyali kehidupan kita tetap menyala. Kalaupun cita-cita itu telah tercapai, buatlah cita yang lebih tinggi. Kalaupun harapanmu telah kau gapai, buatlah harapan yang lebih besar hendak kau gapai. Seperti jiwa perindu Umar bin Abdul Aziz. Memancangkan cita memperoleh istri shalihah, lalu berharap menjadi amir. Kemudian khalifah. Semuanya tercapai. Ketika menjadi khalifah, ia mengerahkan segenap potensinya untuk meraih cita terakhirnya: masuk surga. Jadilah ia pemimpin yang adil dan menyejahterakan: sampai para amil kesulitan menemukan para mustahik.

Mengapa kini kita temukan orang-orang yang kehilangan daya hidup sebelum kehidupan meninggalkannya? Atau orang-orang yang diam menanti kematian datang, seraya menggumamkan dalam hatinya bait puisi Chairil Anwar: "Hidup hanya menunda-nunda kekalahan"

Manusia bisa menjadi seperti itu ketika ia tak lagi memiliki harapan, cita-cita. Dan itu bermula dari kesalahan memandang kehidupan. Bahwa hidup sekedar materi, untuk materi. Dari sana mencuatlah "godaan" yang lain: jika kau tak tahan menderita, akhiri saja hidupmu sekarang juga.

Tanpa harapan, cita-cita, bisa saja manusia tetap bertahan hidup. Namun tak ada lagi gairah dan semangat. Tak ada lagi letup-letup jiwa yang menggerakkannya untuk hidup lebih berarti, lebih bermanfaat. Ia menyerah. Ia kalah.

Ada lagi manusia yang pada awalnya memiliki cita-cita. Ia puas ketika cita-cita itu tercapai, lalu berdiam diri. Pada mulanya puas. Lama-lama menjadi tak berarti. Sebab tak ada lagi azam untuk mencapai yang lebih tinggi. "Di antara sekian jenis kemiskinan", kata KH. Rahmat Abdullah, "yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam"

Atau seseorang yang telah menorehkan prestasinya dalam pertengahan hidup. Lalu berputus asa karena ia hanya mampu mengenangnya tanpa membuat prestasi lain yang lebih besar di masa-masa akhir hidupnya. Di sini godaan iman menggoyahkannya. Ia justru kehilangan keikhlasan lalu tercebur dalam kesalahan. Memanggil topan untuk memporakporandakan kapal prestasinya. Maka kapal itupun tenggelam sebelum ditulis sejarah. Tenggelam dalam lautan kesalahan.

Khalid bin Walid mengajari kita. Menorehkan prestasi terbesar bukan di akhir hidupnya. Namanya telah mengharum sebagai pedang Allah, panglima perang yang selalu membawa pasukannya pada kemenangan. Dan puncaknya adalah Perang Yarmuk. Ketika ia berhasil membuat militer Romawi kalang kabut, ambruk. Lalu paska karya monumental itu, ia dipecat Umar. Tak pernah lagi memimipin perang. Namun ia berhasil memenangkan keikhlasan. Berhasil pula mempertahankan azam. Untuk syahid fi sabilillah. Maka seperti hadits Nabi, Khalid pun mendapatkan ini: "Siapa yang berazam mendapatkan mati syahid, ia akan dicatat sebagai syahid meskipun matinya di atas peraduan." Dan sampai kini, namanya dikenang sebagai panglima besar Islam, hingga Agha Ibrahim Akram membutuhkan lebih dari 600 halaman untuk mencatat biografinya.

Belum terlambat bagi kita untuk memancangkan cita. Menegakkannya meninggi, berkibar di angkasa. Menguatkan akarnya hingga tak pernah tercabut dari bumi jiwa. Mengokohkan tiangnya hingga tak pernah patah oleh sekencang apapun angin godaan yang menghempas menerpa. Jika cita demi cita menjadi nyata, ucapkan puji dan panjatkan syukur pada-Nya. Namun satu lagi yang kita semua belum mampu memastikannya: Menggapai ridha-Nya dan beroleh surga. Bukankah itu setinggi cita-cita dan akan terus menyalakan semangat kita? Jika demikian halnya, percayalah: hidup bukan menunda kekalahan. [Muchlisin]



http://muchlisin.blogspot.com/2011/01/karena-hidup-bukan-menunda-kekalahan.html
Read More...

Karena Doa Robithoh


Islamedia - Sebuah amplop putih berisi undangan menjadi pembicara sebuah seminar berada di tanganku. Dengan hati-hati aku robek amplop itu untuk mengeluarkan isinya, sebuah kertas HVS yang terlipat. Saat kubuka kertas itu aku menemukan namaku, Adi Saputra, sebagai pembicara dengan topik "Al-Qur'an menolak Pluralisme" di salah satu baris di antara deretan huruf-huruf yang membentuk isi surat.

Aku menghadapkan wajahku pada orang di depanku. "Baik. Insya Allah bisa." Ujarku sambil tersenyum.

"Makasih banyak, bang. Makasih banyak." Senyum orang di depanku lebih lebar. Terasa seperti senang mendengar kesediaanku.

"Siapa aja pembicara yang diundang?"

"Dari LSM Kajian Pluralisme Indonesia, ada Pak Hendrawan."

"Oh... Langsung ketua umumnya nih, yang turun?"

"Bukan bang, bukan Pak Hendrawan Ketum LSM KPI. Saya dapat rekomendasi dari Ketumnya untuk mengundang seorang anggota baru LSM itu yang baru dua bulan berada di Indonesia setelah menyelesaikan S2 di Texas. Namanya memang mirip dengan nama ketumnya."

"Oh begitu. Yah, nama Hendrawan memang pasaran sih. Hahaha..." Candaku diikuti tawa kurir pengantar undangan.

"Baik bang, saya mohon diri dulu. Ada rapat acara pukul 2 siang nanti."

"Ya, silakan. Terima kasih undangannya ya, Mas... Siapa namanya?" Tanyaku.

"Saya juga Hendrawan pak. Tapi bukan saya yang jadi pembicara. Saya masih mahasiswa kok." Dia nyengir.

"Hah? Ya ampun. Hahahaha..." Kini tawaku lebih keras dari sebelumnya. Tapi jadi merasa tidak enak hati setelah terlanjur mencandai nama Hendrawan.

"Mari bang..."

"Ya.. Mari."

Aku menarik nafas panjang. Hendrawan... Mungkin nama itu benar pasaran. Tapi ada satu entitas unik yang memakai nama Hendrawan yang melekat dalam hati. Setiap mendengar nama Hendrawan, rasa penasaranku bangkit dan kerinduanku mengharu biru. Cukup lama nama Hendrawan hadir sebagai pelengkap doa Robithoh yang sering kulantunkan pada pagi atau sore hari tanpa pernah lagi bertemu muka dengan pemilik nama itu selama 12 tahun. Aku rindu pada pemilik nama pasaran itu.

*****

Saat itu, 12 tahun yang lalu, di sebuah musholla sederhana di tepi kompleks sekolah, aku hadir di tengah lingkaran kecil yang sedang menyimak kajian keislaman yang dibawakan oleh seorang alumni. Ada sebuah dialog yang begitu berkesan dan mengisi hati.

"Doa-doa di Al-Ma'tsurat itu doa Rasulullah ya kak?" Tanyaku yang sedang mengamati sebuah buku kecil berjudul Al-Ma'tsurat Wazhifah Kubro.

"Ya." Jawab Alumni pengisi kajian. "Rasulullah rutin membacanya pagi dan sore. Karena Rasulullah tauladan kita, kita juga harus amalkan dong."

"Doa Robithoh juga doa Rasulullah?" Kali ini yang bertanya adalah orang di sebelahku. Bernama Hendrawan.

"Bukan. Itu doa yang diajarkan oleh Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Kita kan diperbolehkan membaca doa apa saja redaksinya selama itu baik. Bahkan kita boleh berdoa dengan bahasa Indonesia. Nah, doa Robithoh ini memang bukan doa yang pernah Rasulullah lafalkan. Tapi doa ini begitu indah dan sangat baik. Dan tentu saja boleh kita amalkan."

Hendrawan manggut-manggut.

"Iya Kak, kata-katanya indah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu hati ini telah berhimpun dalam taat padamu..." Aku mengeja halaman Doa Robithoh yang kubuka. "Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, abadikanlah kasih sayangnya... "

"Kamu bisa bayangkan wajah saudara kamu ketika membaca doa itu. Supaya lebih khidmat." Ujar kakak Alumni.

"Begitu ya kak? Aku mau membayangkan wajah Adi supaya dia gak gampang futur." Ujar Hendrawan sedikit tertawa nakal.

"Oke, ana juga bayangin wajah antum, Hen." Jawabku.

"Bagus. Kalian saling mendoakan ya! Biar ketua dan sekretaris Rohis tetap kompak."

"Hehehehe..." Aku dan Hendrawan dan anggota pengajian lain cengengesan.

*****

Ruangan ini cukup luas. Berukuran 20x10 meter. Peserta seminar yang hadir pun cukup banyak. Ada sekitar seratusan bangku yang terisi oleh manusia. Terlihat dari wajahnya, para peserta cukup antusias mengikuti seminar kali ini.

Dan setelah 20 menit pembicara pertama menghabiskan waktu yang dijatah panitia untuk memaparkan pandangannya tentang "Al-Qur'an Mengajarkan Pluralisme", kini giliranku memaparkan topik "Al-Qur'an Menolak Pluralisme Agama." Sebuah makalah sudah siap di tangan. Aku pun memulai pembicaraan setelah tahmid dan sholawat.

"Nama saya Adi Saputra. Saya aktif sebagai ketua Yayasan Cinta Quran. Mulai akrab dengan Al-Qur'an sejak SMA ketika bergabung dengan Rohis SMA 83.

Ya saya pernah aktif di Rohis SMA. Bahkan berlanjut di Rohis kampus. Kalau Pak Hendrawan tadi bilang bahwa Rohis-Rohis SMA merupakan tunas permusuhan dengan perbedaan dan pluralisme, mungkin saja itu pengalaman beliau pribadi. Karena dulu ketika menjabat Ketua Rohis SMA 83, Pak Hendrawan ini sekretaris saya. Saya akrab sekali dengan dia, dulu. Saya tidak menyangka setelah 12 tahun berpisah akhirnya kami disatukan dalam acara seminar ini. Saya berterima kasih banyak pada panitia."

Suasana sedikit gaduh di selingi tawa dan tepukan tangan kecil. Aku melihat Hendrawan yang disampingku tertawa. Tiba-tiba tangannya membuka hendak merangkulku. Aku sambut rangkulan itu. Setelah berangkulan, wajahnya bergerak mendekati mikrofon.

"Ya saya juga kangen dengan Pak Adi. Saya juga berterima kasih pada panitia."

Aku menahan haruku. Dengan menahan sesak di dada, aku melanjutkan pemaparan makalah yang akan membantah pemaparan Hendrawan tentang pluralisme yang telah disampaikan sebelum giliranku.

*****

Acara seminar memasuki masa istirahat pas ketika adzan zhuhur berkumandang. Aku hanya bisa menyempatkan berbincang sedikit dengan Hendrawan menanyakan kondisinya, kerja dimana, dan tinggal dimana, serta bertukar nomor HP sebelum kemudian aku bergegas menuju masjid kampus.

Setelah mengikuti sholat zhuhur berjama'ah dan dilanjutkan sholat sunnah ba'diyah, aku yang bersiap meninggalkan kampus ini - karena tugasku menjadi pembicara sudah kutunaikan - didatangi seseorang yang juga menjadi pembicara pada sesi pagi tadi, Hendrawan.

"Sudah sholat, Hen?" Tanyaku.

"Sudah Di. Benar-benar perjumpaan yang tidak diduga." Dia memandangiku sejenak dan melanjutkan kalimatnya, "Dan kamu tidak berubah. Tetap istiqomah di jalan dakwah." Hendrawan tersenyum. Seperti bangga. Atau mengejekku?

"Kamu sendiri bagaimana Hen? Aku tidak menyangka kamu menjadi pendukung liberalisme sekarang." Tanyaku.

"Panjang ceritanya, Di. Setelah aku ikut orang tuaku pulang kampung ke Magelang, kita masih saling kirim kabar kan, dan kamu tahu kan aku tidak bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada dana?"

Aku mengangguk.

"Tahun kedua aku di Magelang, Allah melapangkan rezki orang tuaku. Usaha orang tuaku mulai memperlihatkan kesuksesan hingga terkumpul dana untuk melanjutkan kuliahku. Aku memilih IAIN Semarang.

Awalnya aku aktif di dakwah kampus. Tapi setelah semester tiga, aku mulai mengurangi kegiatan dakwah kampus. Itu karena aku tak bisa menahan rasa cintaku pada seorang gadis yang sekarang menjadi istriku. Aku berpacaran, dan teman-teman aktifis dakwah tak bisa lagi menerimaku.

Aku mulai jauh dari dakwah. Lulus kuliah, aku meneruskan baktiku di kampus, menjadi asisten dosen. Beberapa saat mengajar di kampus, aku mendapat beasiswa melanjutkan studi di luar negeri. Dan di luar sana aku banyak berinteraksi dengan pemikiran liberal.

Dulu saat menjadi mahasiswa dan asisten dosen, aku memang dikepung pemikiran-pemikiran seperti itu. Kondisiku yang jauh dari lingkungan aktifis dakwah membuat filterku rusak dan sedikit demi sedikit menikmati diskusi liberalisme.

Memang kadang ada pertentangan batin. Hati kecilku tak setuju dengan pikiran-pikiran ini. Tapi lingkungan telah terlanjur menyeretku lebih dalam."

Ia diam. Dan dalam diam itu, aku menyerobot pembicaraan.

"Kamu tahu, sampai sekarang kamu masih aku doakan. Doa Robithoh yang aku ucapkan pagi dan petang itu, aku maksudkan agar Allah meneguhkan hati kamu dalam dakwah. Wasyroh suduroha bi faidil imani bika."

"Terasa, Di. Aku beberapa kali bermimpi kita membaca Doa Robithoh bersama." Potong Hendrawan. Aku terperanjat mendengar pengakuannya.

"Aku tidak bohong. Setelah bermimpi seperti itu aku berdoa agar kita dipertemukan dan kamu bisa menyelamatkan aku dari lingkungan yang buruk. Alhamdulillah doaku terkabul. Kita bertemu lagi, Di."

"Kalau hati kamu menolak pemikiran sesat itu, kenapa kamu bertahan dalam lingkungan yang buruk?"

"Pertemuan ini ikhtiarku untuk keluar dari lingkungan yang buruk. Kamu tahu siapa yang merekomendasikan kamu jadi pembicara di seminar ini? Aku. Aku yang merekomendasikan kamu. Selama ini aku mencari tahu tentang kamu lewat internet. Dan ketemu. Dan pas sekali momennya saat aku ditawari menjadi pembicara seminar ini."

Aku menatap sahabatku itu erat-erat.

"Aku sudah diangkat jadi PNS. Jadi, aku tidak lagi mengkhawatirkan nafkahku kalau aku murtad dari kelompok liberalis." Ujar Hendrawan disambung dengan tawanya. Aku juga ikut tertawa.

"Kamu mau kalau mulai ngaji lagi dari materi ma'rifatulloh?" Tanyaku.

"Siapa takut?" Kami tertawa bahagia. Doa Robithohku tak sia-sia. Allah masih melekatkan hati kami dalam dakwah, Insya Allah.
Read More...

Tiga Makna Kelahiran

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Kepada seluruh tamu undangan yang Kami hormati, kepada seluruh jajaran pengurus Partai Keadilan Sejahtera dan kepada segenap kader Partai Keadilan Sejahtera, Ikhwan dan Akhwat fillah saya ucapkan selamat berulang tahun.  Semoga Allah terus memberikan kejayaan kepada kita  dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan, memberikantaufik dan hidayah dan inayahNya kepada kita.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT, setiap hari selalu ada yang memperingati hari ulang tahun atau hari kelahiran baik kelahiran sebagai pribadi atau sebagai komunitas, kelahiran organisasi-organisasi dan kelahiran bangsa-bangsa. Hari ini, kita bersama-sama dengan riayahdan inayah dari Allah SWT juga memperingati kelahiran lembaga perjuangan ini:  Partai Keadilan Sejahtera.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,  hal yang paling penting dalam memperingati hari kelahiran adalah membangkitkan rasa syukur kepada Allah SWT
{ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ} [إبراهيم: 7]
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(QS Ibrahim 7) 
Bila kita pandai bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, niscaya Allah akan memberikan tambahan berupa limpahan karuniaNya, limpahan rahmatNya kepada kita semua. Oleh karenanya untuk memantapkan rasa syukur kita, kita harus memahami makna kelahiran kita,  makna kelahiran setiap insan,  makna kelahiran setiap umat dan makna kelahiran setiap bangsa.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT, kita tidak akan lahir ke dunia ini kecuali disebabkan oleh adanya mawaddah warahmah, adanya mahabbah warahmah. Kita lahir karena adanya cinta dan kasih sayang dari ibu dan bapak kita. Kita lahir melalui kasih sayang kedua orang tua kita dan kelahiran kita disambut oleh kasih sayang kerabat, saudara dan handai taulan kita. Oleh karena itu kita lahir untuk membawa misi rahmatan lilalamin. Kita lahir untuk menyebar kasih sayang kepada seluruh lapisan ummat, seluruh lapisan bangsa, bahkan seluruh lapisan kemanusiaan. Kita lahir dengan membawa mahabbah warahmah.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT, kita dilahirkan dengan penuh cinta dan  kasih sayang, kita pun lahir dengan  kehormatan dan kemuliaan.  
{ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ} [المنافقون: 8]
Padahal izzah (kehormatan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS Munafiqun 8)
Selain kehormatan Allahpun memberikan kemuliaan kepada kita di atas semua makhluk lainnya yang diciptakanNya.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا (الأسراء :٧٠)
70. dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al-Isra : 70)

Kita lahir dengan kehormatan dan kemuliaan, oleh karena itu setelah kita diberi kehormatan dan kemuliaan oleh Allah, tidak boleh kita menempatkan diri kita dalam posisi yang lemah dan hina, karena kita telah lahir dengan kehormatan dan kemuliaan setelah sebelumnya kita lahir dengan kecintaan dan kasih sayang.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT, insya Allah kelahiran kita juga adalah untuk membangun kehormatan dan kemuliaan umat, bangsa dan negara serta kemanusiaan. Kitapun lahir kedunia dengan mengemban amanah dan memikul tanggung jawab. Kita lahir dengan membawa misi ibadah dan tugas kekhilafahan di dunia ini. 
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ} [الذاريات: 56]
56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.  (QS Adz-Dzariyat : 56)
{وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً } [البقرة: 30]
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Baqarah : 30)
Kita lahir sudah dengan mengemban amanah dan memikul tanggungjawab yang sebelumnya oleh Allah SWT telah ditawarkan kepada makhluk-makhluk lain:  
{إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا} [الأحزاب: 72]
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan 
gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka 
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. 
Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh (QS Al Ahzab 72)

Amanah dan tanggung jawab ini harus kita tunaikan , sebab seluruh gerak, ibadah, tindakan dan ucapan kita akan dituntut pertanggungjawabannya oleh Allah SWT, inna sam’a wal bashoro wal fuadakullun ulaika kana anhu masula:
{إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء: 36]
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS al-Isra 36)
Oleh karena itu harus kita sadari bahwa tidak bisa kita mengkhianati manah yang kita emban dan tanggung jawsab yang kita pikul tersebut:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [الأنفال: 27]
27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Al-Anfal : 27)

Kader Partai Keadilan Sejahtera , kader Partai Dakwah  dan kader Gerakan Dakwah harus senantiasa mengingat tiga nilai atau tiga makna kelahiran ini:
  1. Wulidna bilmahabbati warahmah  (ولدنا بالمحبة والرحمة), kita lahir dengan membawa misi penyebar kasih sayang
  2. Wulidna bil izzati walkaramah (ولدنا بالعزة والكرامة), kita lahir dengan kehormatan dan kita lahir untuk meraih kejayaan
  3. Wulidna bilamanati bil masuliyah (ولدنا بالأمانة و المسؤلية), kita lahir untuk terus dan terus memikul tanggungjawab, mengemban amanah yang insya Allah kita bersama-sama akan menghadap Allah untuk dimintai pertanggungjawabannya sejauh mana amanah dan mausliyah itu kita laksanakan.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah, kader PKS yang mengemban misi amanah dan masuliyah ini, insya Allah senantiasa bersyukur sehingga hari ini merupakan hari Syukrun Azhim, syukuran yang agung yang insya Allah berarti kita akan mendapatkan kemenangan-kemenangan besar pula sesuai dengan janjinya bahwa orang yang bersyukur akan mendapatkan tambahan nikmat. Sehingga umat, bangsa, negara dan umat manusia pun akan berada dalam kehormatan dan kemuliaan karena itu adalah pangkal kejayaan di dunia dan akhirat.  Allahu Akbar, AllahuAkbar .
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Pidato Kebangsaan Ketua Majelis Syuro PKS KH. Hilmi Aminuddin di depan lebih dari 300 ribu kader dan simpatisan. Dalam Acara Milad PKS Ke – 13 di Gelora Bung Karno, Ahad 17 April 2011.

Read More...