Tampilkan postingan dengan label Kabar Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Nasional. Tampilkan semua postingan

SMS Terakhir Almarhumah Bunda Yoyoh Yusroh


Ya Rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat..Mengkaitkan aku dengan berdampingan penghulu para wanita Khodijah Al Kubro yg berjuang dengan harta dan jiwanya ?Atau dengan Hafsah binti Abi Bakr yang dibela oleh Alloh saat akan dicerai karena showwamah dan qowwamahnya?Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500 an hadits, sedang aku…ehm 500 juga belum…Atau dengan Ummu Sulaiman yg shobirohAtau dengan Asma yg mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihadAtau dengan siapa ya ??Ya Allah, tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliah mereka, sehingga aku laik bertemu mereka, bahkan bisa berbincang dengan mereka di taman Firdaus-Mu



Khusnul khotimah telah kau raih mujahidah, semoga kami bisa mengikuti jejakmu
Semoga Allah menempatkan beliau di sebaik-baik tempat
Dipertemukan dengan orang-orang sholih, berkumpul dalam halaqoh abadi bersama mereka
Allohummagfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha..
Selamat jalan mujahidah sholihah.



http://rikadagustiningsih.wordpress.com/2011/05/21/sms-terakhir-almarhumah-ustadzah-yoyoh-yusroh/
Read More...

Peringatan Milad, PKS Jabar Berbagi doorprize

DPW PKS Jawa Barat menyelenggarakan puncak peringatan milad ke 13 PKS pada tanggal 24 April di lapangan Monumen Bandung Lautan Api (BLA) Tegalega Bandung.Menurut Ketua DPW PKS Jawa barat Tate Qomaruddin,Lc menyatakan hikmah dari kegiatan peringatan milad ini diantaranya sebagai ungkapan syukur nikmat dengan cara melakukan kegiatan silaturahim bersama kader, simpatisan PKS serta masyarakat umum di lapangan Tegalega.

Tate menambahkan di Jawa Barat akan digelar peringatan milad PKS di tiga titik yaitu di Cirebon, Tasikmalaya dan Bandung.
Sementara itu pada puncak peringatan milad ke 13 PKS, panitia juga membagikan doorprize bagi yang beruntung berupa sepeda motor, TV, kulkas, buku, dan lainnya. Menurut Ketua Panita Milad Ke 13 PKS Oded MD menyatakan target peserta adalah kader, simpatisan serta masyarakat umum dari Bandung Raya meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat dan Sumedang.
“Target massa yang akan kita hadirkan sebanyak dua puluh ribu orang”imbuhnya.
Selain kegiatan PKS berbagi, juga diadakan kegiatan penunjang dalam rangka milad diantaranya lomba dan pameran foto PKS Jawa Barat,bakti sosial, mobil hias, olah raga massal dan aneka hiburan kesenian di lapangan Tegalega Bandung.


http://pks-jabar.org/index.php?tipe=baca&read=208
Read More...

PKS Masih Puber, Banyak Godaan

MALANG, KOMPAS.com - Presiden Partai Keadilan sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq menilai sejumlah gosip yang menerpa partai yang dipimpinnya merupakan bentuk cobaan. Cobaan yang menimpa PKS itu dinilai hal biasa, sama sekali tidak mengganggu kinerja partai.
"Melihat umur PKS, saat ini masih masa puber. Hal yang biasa kalau banyak godaan yang datang," ujar Luthfi Hasan Ishaaq, saat jumpa pers, jelang Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) DPW PKS Jawa Timut, di Hotel Santika, Kota Malang, Jumat (22/4/2011).

Menurutnya, isu yang beredar tentang partai PKS sama sekali tidak mempengaruhi kinerja PKS. Ia menegaskan bahwa PKS tetap bekerja, bertindak dan melayani masyarakat.

Kasus terakhir menimpa PKS saat Arifinto, seorang anggota DPR RI dari partai tersebut tersandung kasus konten porno. Ditanya apakah kasus Arifinto itu berpengaruh terhadap kerja partai, Lutfhi mengatakan tidak berpengaruh.

Yang penting kata Lutfhi, Arifinto sudah tegas mengundurkan diri dari DPR RI. "Itu hanya yang luas biasa. soal apa yang dilakukan pak Arifinto, itu manusiawi. bisa menimpa siap saja," katanya.

Di usia pubernya, lebih lanjut Lutfhi mengaku, saat ini PKS banyak digoda oleh partai lain. "PKS banya digoda partai lain. Kita harus sabar. Tetapi harus tetap semangat berjuang untuk rakyat," katanya tegas.

Melihat usianya yang sudah 13 tahun jelas Lutfhi, dan agar tidak kalah dengan partai lainnya, PKS menargetkan, pada pemilu mendatang, PKS harus menjadi partai terbesar ke tiga di Indonesia. "Minimal di bawah Partai Golkar. Itu target PKS ke depan," kata pria kelahiran Lawang, Kabupaten Malang ini.

Ditanya godaan apa yang datang dari partai lain itu, Lutfhi enggan menjelaskannya. "Yang jelas PKS saat ini banyak digoda partai lain. Termasuk kasus yang menimpa Pak Arifinto itu. itu salah satu godaan dari partai lain," katanya.

Muskerwil DPW PKS Jawa Timur akan dibuka langsung oleh Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Mukerwil dilaksanakan selama dua hari, 22-23 April 2011. Hadir seluruh pengurus DPD PKS Se-Jawa Timur dan ratusan kader PKS.

http://nasional.kompas.com/read/2011/04/22/17561632/PKS.Masih.Puber.Banyak.Godaan
Read More...

Zulkieflimansyah, Ketua PKS Dosen di Harvard

VIVAnews - Sikap Partai Keadilan Sejahtera yang perhatian dengan Palestina sering disalahartikan tak menyukai yang berbau Amerika Serikat. Zulkieflimansyah, salah satu Ketua PKS, menjadi bukti pemahaman itu tak benar.

Zul yang lahir di Sumbawa Besar, 18 Mei 1972, ini bahkan mengaku pengajar di Universitas Harvard, salah satu perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat. Doktor Ekonomi Industri jebolan Department of Economics, University of Strathclyde, Glasgow, Inggris ini memang selain aktif berpolitik juga tercatat sebagai salah satu dosen di Universitas Indonesia, tempat dia meraih sarjana ekonomi.

"PKS itu cukup sering disalahpahami di Amerika," kata Zul kepada VIVAnews, Selasa 19 April 2011 malam. "Saya cukup sering ke Amerika, saya masih jadi pengajar di Harvard University," katanya.

"Menurut saya, sama-sama saling memanfaatkanlah, saling menuai manfaat. Jadi PKS itu bisa mengenal lebih banyak orang di luar kita, harus diakui Amerika maju sekali. Kalau teman-teman Amerika juga tidak melulu memandang PKS kaum konservatif, tapi memahami PKS manusia biasa terdiri berbagai latar belakang pemikiran," kata Zul yang pernah mencalonkan diri jadi Wakil Gubernur Banten itu.

Namun Zul memang memahami, banyak teman-teman separtainya masih apriori dengan Amerika Serikat atau yang berbau 'Barat'. "Sedikit-sedikit ini rekayasa Israel, rekayasa Yahudi, ini stereotiping seperti itu nggak benar," kata Zul.

Cara pandang ini, menurut Zul,  untuk mengubahnya pelan-pelan, mungkin dengan kerja sama, saling berinteraksi itu akan menemukan kesepahaman bahwa  tidak boleh mengklaim diri paling suci, paling benar. "Anasir kebaikan itu ada di mana-mana, PKS tidak boleh menjadikan dirinya centre of the world," kata Zul yang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia itu.

Dan Zul mengaku, kini kerap berperan sebagai jembatan antara PKS dengan dunia 'Barat' seperti dengan pihak Amerika Serikat. "Radikalisme itu tidak bisa menyelesaikan masalah, justru tidak mendapat tempat," kata Zul yang mengenyam sekolah menengah atas di Australia selama setahun itu. (sj)


http://politik.vivanews.com/news/read/215754-zulkieflimansyah--ketua-pks-dosen-di-harvard
Read More...

PKS Tunjukkan Soliditas di Senayan

 INILAH.COM, Jakarta - Berbagai isu dan peristiwa yang memojokkan PKS belakangan ini nampaknya tidak mempengaruhi soliditas kader-kader partai tersebut.

Setidaknya hal itu ditunjukkan ribuan kader PKS dalam acara Milad ke-13 PKS yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (17/4/2011). Mereka larut dalam satu rasa sebagai kader dakwah. Mereka seolah ingin melupakan kasus-kasus yang sebelumnya memojokkan PKS, seperti kasus politisinya Arifinto yang melihat gambar porno.

Mereka melupakan berbagai tudingan para pendiri PKS, seperti Yusuf Supendi, Syamsul Balda, dan lain-lain yang beberapa kali menyerang elite PKS.

Untuk memompa semangat dan soliditas, terpampang berbagai spanduk di pojok-pojok acara Milad PKS ke-13. Di antaranya, spanduk berbunyi: "PKS Tetap solid", "Jakarta Pusat makin Kuat Makin Taat", dan "Bekerja untuk Indonesia." [bar]


http://www.inilah.com/read/detail/1426692/pks-tunjukkan-soliditas-di-senayan
Read More...

Luthfi: Makin Tinggi PKS 'Angin' Makin Kencang

INILAH.COM, Jakarta - Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq melihat partainya mulai diterpa 'angin ribut'. Ia mengimbau kadernya agar selalu mengucapkan ayat Al-Qur'an saat menghadapi berbagai ujian.

"Tantangan yang kita hadapi di saat partai kita mulai meninggi, ada sejumlah angin yang mulai menerpa PKS. Ada angin yang menyejukkan, ada angin yang menggoyang, angin yang memporakporandakan tatanan yang kita miliki," tandas Luthfi saat menyampaikan pidato politik di acara Milad ke-13 PKS di Jakarta, Minggu (17/4/2011).

"Saya mengajak kader PKS untuk meneriakkan dan kumandangkan setiap ada guncangan dari pengganggu dengan teriakan, Hasbunallah wanimal wakil ni'mal maula wa ni'man nashir," lanjut Luthfi.

Menurut Luthfi, betapapun dahsyat guncangan angin yang menerpa partainya, hal itu justru akan jadi pelecut bagi kadernya agar makin matang dalam berpolitik.

"Dengan prestasi yang dimiliki PKS, turbulensi yang kita hadapi hanya akan mematangkan kader-kadernya, mengokohkan soliditas kader-kader dan mencemerlangkan tokoh-tokohnya. Itu semua hanya ujian yang kita hadapi," tandasnya. [bar]


http://www.inilah.com/read/detail/1426872/luthfi-makin-tinggi-pks-angin-makin-kencang
Read More...

PKS Jadi Partai Besar Tanpa "Tokoh" dan "Uang"


 "PKS Besar Bukan Karena Orang Besar"
VIVAnews - Hari ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tepat berusia 13 tahun. Memasuki usia yang mulai matang, berbagai guncangan dan gelombang mulai menerpa. Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq, menyebutkan PKS tak khawatir karena merupakan partai yang tumbuh dari bawah.  

Dia menuturkan, sejak Orde Baru dan Reformasi, tidak ada satu partai pun yang dapat tumbuh besar, kecuali di belakang mereka ada tokoh besar dan dukungan dana. 

"Ada partai yang memanfaatkan orang besar dan biaya besar untuk mendapat dukungan suara. Namun, PKS tanpa didukung orang besar dan dana besar bisa eksis, bisa menjadi besar dan diterima kebenarannya secara universal," kata dia dalam orasinya di Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Minggu, 17 April 2011. "Ini adalah tanggung jawab partai Islam untuk menunjukkan keramahan partai yang diwujudkan secara nyata, meskipun tak memiliki tokoh populer dan dana besar."

Soal berbagai tudingan yang diarahkan kepadanya dan PKS, Luthfi menyatakan, "Ada angin yang menyejukkan, menggoyang serta angin yang mengoyakkan tatanan yang ada. Turbulensi yang dihadapi PKS hanya akan mematangkan kader dan soliditas partai."

Menurut dia, turbulensi itu tidak akan reda hingga 2014. "Jangan harap akan mereda tapi akan berlanjut hingga 2014 nanti," ujar Luthfi.

Luthfi memperingatkan, agar kader PKS merapatkan barisan serta mengokohkan nilai universal dan diterima kebenarannya kepada masyarakat.
Milad ke-13 dihadiri sekitar 300 ribu massa dan partisan PKS. Sebagian besar di antaranya tidak dapat masuk stadion karena telah penuh. Hadir pula ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Perwakilan dan Duta besar dari Palestina, Kuwait, Irak, Australia, dan Inggris.


PKS Klaim Jadi Partai Besar Tanpa Tokoh dan Uang

INILAH.COM, Jakarta - Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq mengakui partai-partai besar biasanya ditopang oleh tokoh besar dan modal uang yang sangat besar. Namun, PKS menjadi besar tanpa ditopang hal tersebut.

"Sejak era Orde Baru hingga Orde Reformasi, tidak satu partai pun yang tidak tumbuh dan besar kecuali karena di belakang mereka ada orang-orang besar dan tokoh besar berskala nasional, tidak ada satu partai yang bisa tumbuh dan bertahan kecuali ada mesin kekuasaan yang besar, ada biaya besar yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan dukungan," ujar Luthfi saat menyampaikan pidato politik dalam acara Milad PKS di Jakarta, Minggu (17/4/2011).

"Tapi PKS bisa jadi partai besar tanpa tokoh-tokoh besar, tanpa di-back up mesin uang yang besar, tapi karena kesungguhan kerja para kadernya dalam memperjuangakn ide-ide besar dan nilai-nilai luhur yang diterima kebenarannya secara universal," lanjutnya.

Ia mengaku bangga dengan PKS sebagai satu-satunya partai Islam yang besar di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam terbesar di dunia. "Kini PKS telah menjadi partai Islam terbesar di negeri yang penduduknya beragama Islam terbesar di dunia. Ini sebuah apresiasi dan tanggungjawab yang dipikulkan kepada kader-kader PKS," ujarnya. [bar]


http://www.inilah.com/read/detail/1426932/pks-klaim-jadi-partai-besar-tanpa-tokoh-dan-uang
Read More...

PKS dan Cobaan Demokrasi

Jakarta - Paling tidak ada 2 kejadian beruntun yang 'mengarah' langsung atau tidak langsung kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS); Pertama, kasus Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan (PK) –awal mula PKS- yang memperkarakan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ke Badan Kehormatan DPR RI. Selain itu, Yusuf –yang telah dipecat sejak tahun 2009 dari PKS karena alasan indisipliner ini- juga membuka beberapa tuduhan mengenai keterlibatan Sekjen PKS Anis Matta dalam penggelapan uang serta sikap Yusuf yang menolak PKS menjadi partai terbuka. Kedua, dan ini yang menghebohkan, adalah kasus Arifinto, anggota DPR RI dari PKS yang tertangkap kamera diduga sedang menonton video porno pada saat berlangsungya sidang paripurna.

Tulisan ini mencoba melakukan analisa –berdasarkan kasus-kasus tersebut- mengenai risiko yang ditempuh sebuah gerakan ketika mereka memutuskan untuk masuk ke dalam lingkaran 'politik praktis'.

Dari pengalaman di Indonesia misalnya, beberapa gerakan Islam gagal menghadapi tantangan politik. Beberapa partai Islam kalah dalam proses politik yang fair dan elegan, tetapi –dan ini yang jarang diulas- partai Islam seringkali kalah, bukan karena tidak mampu mendulang suara, tapi gagal menghindar dari fitnah lawan politik yang berujung pada 'pembredelan' partai tersebut oleh penguasa, baik langsung maupun tidak langsung. Masyumi di era Orde Lama dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di awal era Orde Baru menjadi bukti gagalnya gerakan Islam menghadapi cobaan demokrasi. Bagaimana dengan PKS?

Cobaan Demokrasi

Demokrasi adalah pasar bebas politik. Semua ide dan gagasan ditawarkan di sini, dalam berbagai bentuknya. Pembelinya adalah rakyat. Rakyat yang akan menilai gagasan apa yang layak dibeli, dan gagasan mana yang sebaiknya dibuang. Maka tugas partai adalah mengemas gagasan itu dengan bentuk terbaik, sehingga tampak menarik untuk dijual dan ada kemungkinan untuk 'laku' di pasaran politik.

Dalam tataran ideal, demokrasi yang tak ubahnya seperti pasar ini justru menjadi masalah, karena menjadi absurdnya kebenaran dalam politik. Hal ini paling tidak didasari oleh beberapa hal; pertama, kebenaran, seringkali kemudian menjadi domain partai atau koalisi partai mayoritas. Inilah kebenaran politik, yang belum tentu merupakan kebenaran hukum, dan apalagi kebenaran agama. Demokrasi, dalam istilah lainnya, kemudian menjelma menjadi peraturan tentang kemenangan 51 persen atas 49 persen, sesuatu yang oleh Alexis de Tocqueville disebut sebagai 'tirani mayoritas'.

Kedua, gagasan tentang apa itu 'kebenaran dalam politik' berbeda antara satu partai dengan partai lain. Persamaannya, adalah semua partai meyakini bahwa untuk membuktikan sejauh mana kebenaran gagasan mereka, yang harus dilakukan rakyat adalah memilih mereka untuk berkuasa di lembaga negara. Gagasan kebenaran politik dalam bentuk 'ideologi partai' ini kemudian menjadi semacam karakter yang membedakan antara satu partai, dengan partai lainnya.  

Ketiga, Dengan analogi pasar bebas dan kebenaran yang absurd, maka persaingan menjadi sedemkian bebas. Dalam konteks ini, kita bisa memahami mengapa konotasi term 'politik' menjadi bernilai 'negatif'. Tak lain karena, demokrasi hampir-hampir memberi jalan bagi partai politik untuk merebut kekuasaan dengan segala cara. Toh, benar salahnya cara  yang ditempuh, akan masuk dalam perdebatan politik, bukan justifikasi hukum. Inilah cobaan demokrasi, yang segera kemudian menjadi mekanisme seleksi alamiah; yang mampu beradaptasi akan terus bertahan. Yang gagal, segera masuk kotak.

Reformasi 1998 membawa Indonesia untuk 'belajar kembali' tentang demokrasi, setelah pernah diaplikasikan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 1955. Dalam kondisi inilah, PKS muncul (sebelumnya PK) dengan menawarkan gagasan Islam sebagai landasan ideologi. Diisi dominan oleh orang-orang dengan latar belakang aktivis Islam kampus, idealisme dan ide Islam Politik kemudian menjadi 'dagangan' PKS dalam menjual gagasannya kepada rakyat.

Namun, lazimnya partai lain yang terus eksis, PKS pun tidak lepas dari cobaan demokrasi. Cobaan yang dihadapi adalah bagaimana mengejawantahkan ideologi partai dalam tindakan nyata di ruang publik. Dengan kata lain, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana 'kebenaran politik versi PKS' menjadi 'kebenaran politik' yang diyakini juga oleh masyarakat. Hal ini nampaknya menghadapi beberapa kendala tertentu;

Pertama, adalah upaya PKS untuk memperluas basis pemilih (kader dan simpatisan). Selama ini PKS dianggap masih berada di 'kanan' dengan basis agama yang kuat, dan belum mampu bergeser ke 'tengah' untuk menggaet masa Nasionalis. Pilihan strategi yang diambil pun tidak main-main; menjadi partai terbuka. Pilihan cerdas sekaligus kontroversial; di satu sisi PKS harus mampu mengemas gagasan ideologi mereka sedemikian rupa untuk meraih simpati massa kelompok nasionalis, di sisi lain PKS juga harus menjelaskan pilihan untuk 'terbuka' ini pada kader dan simpatisan mereka yang kebanyakan adalah kelompok Islam loyalis. Pada titik inilah soliditas PKS sebagai partai kader diuji.  

Kedua, adalah cobaan demokrasi bernama kekuasaan. Dalam hitung-hitungan koalisi, praktis PKS adalah partai yang menempati pos menteri terbanyak setelah Partai Demokrat, sebanyak 4 menteri. Tentu saja ini berkah sekaligus cobaan. Dari sisi internal, kader PKS harus mampu untuk 'menahan diri' terhadap godaan kuasa yang biasanya mendatangkan harta. Jabatan politik, seharusnya berdampak strategis bagi konstituen PKS secara keseluruhan, bukan lahan pembagian jabatan dan proyek-proyek besar. Secara internal, godaan-godaan 'dunia' ini harus diantispasi oleh kader-kader PKS.

Ketiga, adalah cobaan demokrasi berwujud koalisi. Sebagai partai pendukung pemerintahan, PKS dihadapkan pada dilema dalam menentukan sikap. Di satu sisi, PKS mempunyai idealisme tersendiri berdasarkan platform ideologi yang menjadi dasar gerakan, namun di sisi lain PKS –sebagai mitra koalisi- dihadapkan pada tuntutan untuk mendukung kebijakan pemerintah. Dua hal ini seringkali tidak seiring sejalan. Namun, patut diapresiasi ketika dalam beberapa kasus, PKS konsisten dalam  mempertahankan sikapnya 'berbeda jalan' dengan pemerintah.

Badai Pasti Berlalu?

Dalam bukunya Dari Gerakan ke Negara, Sekjen PKS Anis Matta sudah memberikan 'early warning' terhadap pilihan gerakan tarbiyah –cikal bakal PKS- untuk masuk dan terlibat dalam demokrasi. Dalam buku tersebut, Anis mewanti-wanti kader PKS untuk siap menghadapi era demokrasi dan keterbukaan, di mana 'kebenaran dan kebathilan sama-sama bersaing untuk meraih simpati masyarakat'. Maka di era persaingan politik ini menurut Anis, yang harus dilakukan kader PKS adalah 'membuktikan bahwa yang benar di mata Islam adalah benar juga di depan hukum, dan apa yang salah menurut Islam adalah juga salah menurut hukum yang berlaku'.

Seperti jamaknya ajaran agama, bahwa siapa mampu menghadapi cobaan, maka sesungguhnya Tuhan sedang mengujinya untuk membuat ia tangguh. Tapi, barangsiapa gagal menghadapi cobaan -sesuai kadarnya- maka sesungguhnya ia telah gagal mencapai derajat keimanan. Analogi ini tepat untuk PKS. Pilihannya sederhana; jika sukses menghadapi 'cobaan demokrasi' ini, maka PKS akan semakin kuat dan beranjak menjadi salah satu kekuatan politik utama di Indonesia, sebaliknya jika gagal, maka PKS mengikuti pendahulunya partai-partai Islam yang 'masuk kotak', justru karena demokrasi.

Di atas itu semua, patut diapresiasi pilihan politik PKS untuk 'berani bertarung' dalam Demokrasi. Ketika beberapa gerakan Islam lainnya justru tidak berani berpolemik dalam politik, PKS justru masuk dalam politik praktis. 'Percuma saja berlayar, kalau takut Gelombang' begitu mungkin gubahan yang tepat. Maknanya; 'Buat apa punya cita-cita perubahan, kalau takut menghadapi cobaan demokrasi?'

*) Khairurrizqo adalah mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia dan peneliti budaya politik di Hikaam Institute Jakarta.


http://www.detiknews.com/read/2011/04/15/145946/1618327/103/pks-dan-cobaan-demokrasi?nd991107103
Read More...

MIlad PKS ke-13

Read More...

Arifinto, Penyimpangan 'Private' Vs Penyimpangan Publik

Jakarta - Walau mengaku khilaf karena telah membuka link e-mail berisi konten asusila dan
menegaskan mundur dari DPR, publik sepertinya belum bisa melepaskan Arifinto begitu saja. Kritik, tekanan hingga cacian sampai hari ini masih deras mengalir. Begitu fatalkah kesalahan Arifinto sehingga tidak ada lagi ruang maaf yang tersedia untuknya? Bukankah kesalahan yang dilakukan oleh Arifinto sebenarnya bersifat 'private'? Jika demikian bagaimana seharusnya kita memandang kasus Arifinto?

Pemimpin Zonder Ruang Privat

Perilaku publik yang melakukan penghakiman secara massal terhadap pelanggaran moral
memang bukan fenomena asing. Masyarakat dengan budaya yang paling permisif seperti
Amerika Serikat sekalipun, terbukti sangat sensitif terhadap skandal private yang dilakukan oleh Bill Clinton dengan Monica Lewinsky. Sebuah studi yang dilakukan oleh John Dardis (lihat John Dardis, Speaking of Scandal, Studies: An Irish Quarterly Review, volume 89) menyebutkan bahwa, pola penghakiman publik terhadap skandal pribadi para elit yang terjadi antara tahun 1940 hingga 2000 tetap sama walau terjadi di tiga benua (Eropa, Amerika dan Asia) yang berbeda dengan karakter sosial yang berbeda pula.

Dardis menyimpulkan bahwa, ketika seorang individu menempati posisi publik, saat itu
juga hak-hak ruang privat yang dimilikinya luruh. Pada saat yang bersamaan, publik juga menyematkan standar perilaku yang berbeda kepada para pemimpin mereka. Di banyak tempat, standar moral yang berlaku bagi para elit jauh lebih tinggi ketimbang pola kebiasaaan masyarakat jamak. Ini berarti publik cenderung menerapkan standar ganda untuk para elite pemimpinnya. Salahkah ini?

Distraksi Penyimpangan Publik

Tentu, masyarakat berhak untuk berharap memiliki pemimpin yang besih dari
penyimpangan moral pribadi. Dari sudut pandang yang berbeda, publikasi skandal pribadi elit bisa berfungsi sebagai alarm penjaga nilai-nilai moral sosial. Artinya, publik yang masih bisa meratapi skandal para pemimpinnya tentu lebih sehat ketimbang publik yang telah mati rasa.

Namun ini semua bukan tanpa efek samping. Bila penghakiman terhadap penyimpangan
moral private terjadi secara berlarut, masyarakat cenderung lengah terhadap bentuk
Lihat John Dardis, Speaking of Scandal, Studies: An Irish Quarterly Review, volume 89. penyimpangan yang memiliki daya rusak lebih besar. Penyimpangan Publik. Secara sederhana penyimpangan jenis ini terjadi ketika seorang individu menyalahgunakan jabatan publik yang dimiliki. Penyimpangan publik dapat muncul dalam pola yang paling sederhana sampai yang paling rumit. Dalam pola yang paling sederhana, penyimpangan publik muncul dalam bentuk abuse of power, otoritarianisme atau bahkan egoisme elitis. Sementara, dalam pola yang lebih rumit, penyimpangan publik muncul dalam bentuk manipulasi kekuasaan, kolusi hingga korupsi kolektif. Hasilnya tentu saja, terhalanginya hak masyarakat untuk mengecap kesejahteraan.

Sekadar deskripsi sederhana, ICW menilai sepanjang tahun 2010 ada potensi kerugian
negara akibat korupsi sebesar 3,6 trilliun rupiah. Angka ini sama nilainya dengan jumlah dana yang dibutuhkan untuk menambah penghasilan guru seluruh Indonesia pada 2010 lalu. Atau contoh egoisme elitis yang ditunjukkan oleh DPR dalam pembangunan gedung baru, yang juga tidak kalah destruktif. Selain mengabaikan permintaan SBY untuk berfikir ulang, ketika diingatkan akan nilai kesederhanaan, Marzuki Alie yang juga Ketua DPR balik bertanya, "Apakah parameter kesederhanan?" Apakah seperti model Rumah Sangat Sederhana?

Tak cukup sampai disitu, dalam sebuah wawancara, koleganya kembali menimpali, "Apakah anggota Dewan harus bekerja dalam gubuk derita?". Pernyataan seperti ini tentu sangat melukai perasaan masyarakat. Apalagi jika ditimbang-timbang, angka 1,13 triliun rupiah itu sama nilainya untuk membangun 32.000 sekolah di seluruh Indonesia (hasil penghitungan yang dilakukan oleh Emmerson Yuntho).

Kedua contoh di atas merupakan sekelumit dari besarnya daya rusak yang ditimbulkan
oleh penyimpangan publik. Penyimpangan private yang dilakukan oleh elit memang tidak
pantas untuk memperoleh pembenaran dengan cara apapun, namun jangan sampai menjadi pengalih perhatian atas aneka ragam bentuk penyimpangan publik yang jelas-jelas terjadi di depan mata.

*) Rico Marbun, peneliti The Future Institute, staf pengajar Universitas Paramadina dan PTIK. Email: ricoui@yahoo.com


http://www.detiknews.com/read/2011/04/14/082331/1616635/103/arifinto-penyimpangan-private-vs-penyimpangan-publik?nd991107103  
Read More...